Day 11
5 Juni 2016
Sabtu
sore aku berkutat dengan bahan khotbah yang akan kukhotbahkan besok harinya.
Aku merasa sangat gugup. Berkali-kali aku membolak-balik buku berisi liturgi
GMIH yang berbeda setiap minggu gerejawi. Aku juga memilih lagu-lagu yang
cocok. GMIH tidak memiliki leksionari sehingga kita bebas memilih topik atau
tema atau perikop yang akan menjadi khotbah pada hari Minggu. Pencarian dan
penentuan topik serta perikop itu menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi,
mata kuliah Homiletika dan Latihan Khotbah memang sangat membantu. Untuk saat
ini aku mencari dulu pesan apa yang ingin aku sampaikan kemudian aku mencari
teksnya.
![]() |
| Senja di halaman pastori Sabtu itu |
Ini
adalah kali pertama aku menaiki mimbar. Saat proses Pembelajaran Jemaat yang
lalu, gereja tempat aku berjemaat tidak mengizinkanku berkhotbah di ibadah
umum sehingga aku pun belum merasakan sensasinya. Selama proses menyiapkan
naskah khotbah juga menjadi tantangan tersendiri bagiku. Aku disadarkan
bahwa melayani membutuhkan pengudusan diri. Itulah kodeku setiap kali
pelayanan. Aku tidak dapat berkhotbah tentang sesuatu yang aku sendiri tidak
mampu lakukan, mengampuni misalnya. Aku tidak mungkin meminta orang lain harus
mengampuni sementara aku sendiri tidak mampu berlaku seperti itu.



